TOLAK EMANSIPASI “KEBABLASAN”



Refleksi Hari Kartini
DPC GMNI KARAWANG
oleh Carmi Sriwidaningsih


Bicara 21 April berarti bicara tentang R.A. Kartini, tokoh emansipasi yang lahir pada tanggal tersebut dan diperingati setiap tahunnya. Bicara emansipasi yang terbayang di benak kita semua adalah persamaan dan kesetaraan hak perempuan dan laki-laki. Namun benarkah demikian?

Kaum hawa sangat bersyukur dengan adanya pejuang perempuan seperti Ibu Kartini. Berkatnya para perempuan sekarang bisa mengejar cita-citanya seperti kaum adam, yah bisa kita sebut sebagai emansipasi.

Emansipasi berasal dari bahasa latin “emancipatio” yang artinya pembebasan dari tangan kekuasaan.   Di zaman Romawi dulu, membebaskan seorang anak yang belum dewasa dari kekuasaan orang tua, sama halnya dengan mengangkat hak dan derajatnya. 

Dalam kenyataannya, makna emansipasi semakin bergeser. Begitupun perjuangan R.A. Kartini yang banyak salah dimaknai oleh perempuan-perempuan masa kini. Emansipasi yang lebih menekankan pada kesetaraan yang cenderung ingin menyaingi laki-laki, namun mengabaikan fitrah perempuan sejati sebagai seorang ibu.  

Dan jika harus mengambil sedikit pemikiran R.A. Kartini, makna inilah perjuangan/emansipasi yang ia gambarkan sesungguhnya:

Aku di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan bagi anak perempuan, bukan sekali-kali aku menginginkan anak perempuan menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi aku yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tamaSurat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902

Itulah sekilas pesan yang disampaikan Kartini kepada sahabatnya. Hanya sekadar kata-kata sederhana menjadi wanita yang cakap melakukan kewajibannya. Namun, berbeda dengan pemahaman wanita masa kini, ingin mengikuti jejak Kartini dan menuangkannya dalam kehidupan sehari-hari malah kebablasan…!

Bicara perempuan pasti akan termarjinalkan dengan paradigma yang menyebutkan bahwa perempuan hanya akan kembali ke dapur saja. Dengan kata emansipasi itu pasti bisa ter patahkan.

Kenapa emansipasi berhubungan dengan perempuan???
Masalah perempuan selalu menjadi sebuah masalah yang pelik dan kompleks, mulai dari sejarahnya, keberadaannya, kedudukannya, sampai ketidakadilan yang selalu dialaminya. Semua ini bagai lilitan seutas benang merah yang tak pernah berhenti melihatnya sepanjang zaman. Melalui sosok perempuan salah satunya R.A. Kartini sosok kuat yang melampaui kodratnya.

Emansipasi ini terbukti dengan banyaknya perempuan yang ikut menjadi anggota legislatif, politisi, dokter, pekerja kantor, guru, buruh, supir bahkan mengamen di jalanan. Hal ini memberikan peluang kepada perempuan untuk mengembangkan kemampuannya sama seperti laki-laki. Sebuah kemajuan yang sangat bagus. Kalau dulu kesempatan untuk perempuan masih dibatasi.

Inilah yang menjadi emansipasi “Kebablasan” ketika sudah diberikan kesempatan masih saja melupakan kewajiban dan tugasnya sebagai perempuan.

Posisi perempuan di sektor pemerintahan, pendidikan, ekonomi, industri, kesehatan dan budaya, semata-mata hanya sebagai pengabdian kepada Negara dan menempatkan hak-hak apa saja yang mesti dipertahankan untuk dirinya, masyarakat dan Negara. Lebih ditekankan lagi perempuan bukan hanya melahirkan secara biologis. Namun, harus bisa melahirkan pemikiran-pemikiran dan kerja nyata dalam kepentingan bangsa dan Negara.

Tidak luput dari tugas utama  Ibu….!!!

“Waktumu berharga Ibu untuk keluargamu, lingkunganmu dan Negaramu”

Kembali lagi bukan untuk membatasi…!!

Perempuan harus cerdas, harus berpendidikan karena itu bekal untuk perempuan mendidik anak bangsa yang bisa membawanya ke jalan yang lebih terang seperti Kartini bilang  “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang asal mulanya Kartini dapatkan dari satu potongan ayat dalam Al Qur'an yang begitu membuat Kartini terkesan, yaitu :

Al Baqarah : 257 yang berbunyi minadzh dzhulumaati ilan nuur, yang artinya dari gelap menuju cahaya. Allahu waliyyulladziina aamanu yukhrijuhum minadzulumaati ilannuur (Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia Mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran), kepada Cahaya ( Iman).

Karena itu momentum peringatan hari Kartini, 21 April 2015 harus menjadi “cambuk” bagi para perempuan, semoga perempuan menjadi lebih cerdas menyikapi permasalahan-permasalahan lingkungan dan kemajuan zaman demi tercipatnya cita-cita bangsa.





Komentar

Postingan Populer