MUSIM YANG MENDEWASAKAN
Pernah tidak sih dalam kondisi ingin memperbaiki semua yang telah lalu tapi terasa tertutup. Satu persatu aku perbaiki dari tahun 2014 dari mulai rasa sedih yang dipendam dari usia 6 tahun sampai puncak dimana rasa sedih yang mendalam datang dalam bentuk lain. Tidak menyalahkan siapa pun, hanya benar-benar ingin meredam semua kejadian yang menimpa sedari kecil sampai dewasa.
Ketika semua terjadi tidak ada teman cerita, menjadi anak yang pendiam, tidak tahu apa yang terjadi itu apa terkadang sedih menghampiri disaat sendiri, semuanya terlewati sendiri, tidak ada teman ngobrol, kehilangan mamah dan bapak sosok yang biasa memeluk dan mengajak bermain, mengajak jalan-jalan dan memberikan hadiah yang sangat indah.
Banyak orang yang mencibir, ada juga yang melecehkan, tapi bingung ini apa?
Perasaan itu terasa hancur tapi tidak punya siapa-siapa. Tumbuh menjadi mandiri dengan situasi yang kadang sulit dimengerti tapi harus dilalui. Tersimpan kesedihan itu sampai dewasa, sampai dimana bertemu dengan seseorang yang tidak mampu jujur, berkelit, dan ternyata dia bukan rumah yang seperti diharapkan. Baru bertemu dengan orang seperti itu, marah rasanya kenapa dari kecil harus ditingalkan dengan alasan yang tidak jelas, dengan obrolan yang tidak tuntas. Padahal jujur itu lebih terasa berharga dibandingkan berbohong. Banyak yang dikorbankan tapi tak dihitung satu per satu.
sampai paham ternyata semua harus disembuhkan, setiap orang punya masa lalu, masa lalu lah yang akan membentuk pola prilaku. Ingin sembuh dari luka itu, ingin lebih baik sampai satu waktu, harus keluar dari satu lingkungan yang dianbgap rumah tapi tidak seaman itu. Hanya berdo'a "ya Allah SWT bawa aku ketempat yang membuat aku bisa berjalan ke arah mu, ingin rasanya lebih baik, ingin rasanya terlindungi, ingin rasanya mengenal mu lebih dekat, ingin rasanya aman itu hanya dengan mu, karena diri ku milik mu, arahkan jalan itu dengan lebih mulya, lebih baik lebih bijak". Air mata tak hentinya menetes setiap kali mengingat kesalahan yang telah dibuat. Kadang rasa takut menghampiri, tidak ingin orang lain mengalami. Sampai ketika mendengar berita yang kurang enak tentang seseorang, tak kuasa menahan kata keluar, sampai dipikiran berkata kalau dia tidak diberitahu tak ada proses belajar, tidak ada proses sakit lalu bagaimana bisa tumbuh.
Ya Allah jika niat ini memang buruk mohon maafkan hamba mu ini. Tidak ada yang lebih maha pengasih selain diri mu. Jika memang dia tak ingin melihat ku lagi tidak masalah, tapi jika aku melihatnya aku akan medoakan sambil tersenyum kepadanya.
Jadi belajar jika ada seseoarng yang tidak membuat diri kita nyaman pasti ada seseuatu dalam diri kita dan ada pengalaman yang pasti membuat mereka melakuakan hal itu.
Semoga kita dalam lindungan Allah. Melewati musim yang datang silihberganti.

Komentar
Posting Komentar