Eva Hilang Mawar Hitam Tersisa


EVA HILANG MAWAR HITAM TERSISA
Hanya terbaring sendiri di tempat tidur, memegang buku biograpi yang selalu setiap malam aku baca,  membuat aku berpikir apa perjuangan mereka hanya tersirat dalam tulisan saja dan aku tidak mesti tahu apa arti semua itu, benar atau pun tidak ?
 Malam Jumat ini sangatlah membosankan, tidak seperti malam – malam sebelumnya. Karena malam ini aku tak dapat kabar dari Eva temanku yang ada saat aku sedang kebingungan. Hem....  aku harap Eva tidak marah, karena aku mulai jarang mengajak ngobrol ataupun sekedar cerita lalu tertawa bersama – sama.
Aku terus larut dan menjaga kosentrasi pikiranku, sampai ada suara Ibuku mengacaukannya.
“Mita.................. sudah malam, cepat tidur! Suruh ibu
“Bentar Buu…. ada bagian yang belum aku hapal.... 10 menit lagi aku tidur....!” menjawab cukup lantang
“Ya sudah, nanti jangan lupa matikan lampunya!” sahut Ibuku
“iya Bu....” jawabku lagi
Malam ini, aku merasa sendiri tidak ada Eva yang biasa tidur bersamaku. Sebelum aku tidur dia memberikan senyuman dan selalu berkata “Aku akan menjagamu mawar, selama duri dalam tangkaimu tidak patah ”. Hem.... apa artinya ? hanya eva lah yang tahu, sudahlah aku lebih baik tidur dan bergegas menciptakan mimpi yang indah bersama harapanku.
Tak terasa fajar pun telah tampak pada tempatnya. Jam weeker yang ada disamping telinga kanan pun mulai berkicaw.
Kring...... kring....... kring ..........
“hu’phs sudah pagi rupanya”. Bergegas mencari telpon genggam hanya sekedar mengirimkan pesan singkat kepada pacar aku Tarra. “selamat pagi.....! J
Aku menjalin hubungan dengan kata pacaran baru beberapa bulan, saling megenal lewat aktifitas yang membingungkan seperti burung terbang. Namun, terkadang seperti keong yang merayap, itu perumpamaan aku saja. Mandi, bergegas mengambil alat tulis yang aku butuhkan dan ada yang tidak boleh tertinggal catatan bersejarah aku dan Eva, tahu saja dia hari ini datang melihatku.
Dimeja makan sudah tersedia roti bakar isi selay nanas kesukaanku dan segelas susu yang menurut aku itu hanya membuat aku lemah. Hem.. walupun itu sering berganti tergantung apa yang aku mau.
“Ibu aku pulang malam, karena hari ini aku ada acara di Sekolah” sambil melahap roti isi selay nanas
“malam itu jam berapa Mita ?” sambil mengoleskan selay diatas hangatnya roti
“kurang dan lebihnya.... kayanya jam sembilan deh Ibu..?”
“kalau lebih, Ibu jemput Mita kesekolah yah...?” seru Ibu
“iya... iya... Ibu tunggu di rumah yah aku pasti pulang tepat waktu, ok... Ibu ku sayang..!” sambil merayu
“hem iya.....!” seru Ibu
“aku berangkat dulu Ibu, aku bawa roti bakarnya..?” bergegas pergi
“iya hati - hati” jawab Ibu
Aku lebih dekat dengan Ibu karena Ibu adalah satu – satunya orang tuaku. Aku pergi kesekolah dengan menggunakan angkutan umum, uang saku aku hanya cukup untuk membayar ogkos angkot yang hanya memerlukan uang dua ribu saja untuk sampai kesekolah.
SMA Tunas Mekar, ini tempat dimana aku mengenyam pendidikan formal padahal tanpa aku sekolah masi bisa belajar tapi ini lah sistem yang ada.
Bel masukpun berbunyi, biasa Tarra selalu mengajak aku duduk bersebelahan dengannya. Aku merasanyaman. Tapi, tidak dengan Eva yang melihat Tarra hanyalah penghalang aku untuk meneruskan ambisiku itu kata Eva.
Tarra murid yang pintar dikelas XII IPA 2, kepintarannya mengalahkan aku cukup dengan sapa dan salam, hem... wanita – wanita terpesona dengannya.
“Hey.. ko bengong..?” seru Tarra sambil melihat ku
“Hehehehe ga ko...!! sedikit ga seneng aja degan wanita – wanita yang ga jelas pemikirannya itu” ujar Ku
“Ga jelasnya?” Tarra nampak binggung
“Ih.... masa ga ngerti....!” Tampang kesel
“Aku tahu sekarang, cemburu yah..?” Tarra sambil tersenyum
“Huh mungkin....? yah sudah lah cukup sulit ternyata berbagi, ada hal yang aku miliki dan itu aku harap tak hilang”
“Dasar nona Mita yang terkadang lucu.... hahaha..” Tarra memegang kepala Mita
Guru matematika yang bernama ibu linda, guru yang sedikit ribet ini sering menjadi bahan candaan aku dan Eva karena sikapnya aneh. Sering garuk – garuk kepala kalau ada muridnya yang bertanya. Huh.. kenapa akhir – akhir ini aku malas belajar, padahal ada Tarra yang menambah semnagatku, apa aku kehilangan Eva selama dua bulan ini. Dia kemana itu yang selalu aku tanyakan.
“Hai.... pelajarannya sudah selesai ayo.... istirahat..!” ajak Tarra
“oh... udah yah maaf...” seru Mita
Aku terbiasa berdua. Namun, dulu aku berdua dengan Eva untuk sekedar bercerita di taman belakang sekolah dengan sebait candaan yang akan mengudang gelak tawa terutama candaan Eva. Tapi, sekarang ada Tarra dia yang menemaniku saat aku kesepian, entah langsung bertemu ataupun hanya lewat telpon.
Tumben hari ini kantin sepi, hanya beberapa orang murid yang ikut nimbrung makan bareng. Hem.... tapi tak mesti aku pikirkan. Kebetulan sehabis istirahat semua murid dipulangkan, karena akan ada rapat guru dan OSIS membahas tentang Disnatalis SMA Tunas Mekar yang ke – 25 Tahun cukup lama juga, nah...! Tarra adalah ketua OSIS dan aku Sekertarisnya. Tak jarang kami selalu berdua baik untuk mengerjakan tugas ataupun sekedar berdua.
Dari jam 13.00 wib, semua anggota OSIS dan para pegawai sekolah sibuk menyiapkan perlengkapan yang diperlukan untuk besok hari jadi sekolah, sampai dengan larut malam.
“huh... cape juga! Aku harap ibu tidak cemas, pasti... aku pulang malam baget, aku harus menelponnya” dengan terengah - engah
Aku mengambil HP didalam tas, lalu aku menelpon ibu. Nada sambungan mulai terdengar dan ibu pun mengangkatnya.
“halow ibu....!” harap – harap cemas
“iya Mita..” jawab ibu
“ibu mita pulang malam banget... besok peringatan hari jadi sekolah. Mita harus menyiapkan kebutuhan buat acara besok bu sama anak – anak OSIS yang lain, maaf yah bu....!” dengan nada pelan
“iya sudah tidak apa – apa, tapi nanti Mita pulang sama siapa?” ujar ibu
“em.... hehehe... tar Mita pulang sama temen ok ibu....!”
“tapi inget yah..  Mita harus langsung pulang jangan mampir kemana – mana dulu..! Ibu takut Mita kenapa – napa dan inget pake jaket dan jagan lupa makan yah sayang..!” seru ibu yang gelisah
“iya ibu ku sayang pasti... makasih ibu..? aku nerusin kerjaan aku lagi yah bu met malam?”
“met malam juga” menutup telpon
Aku menyelesaikan tugas ku, dan setelah semuanya selesai entah kenapa aku mengingat buku yang selalu aku bawa. Sekedar memeriksanya aku ambil buku didalam tasku, lalu aku buka.
“hah ada sekuntum bunga mawar kering yang terselip di bagian lembar kesmbilan...!!” aku sontak terkaget dan tak terlalu memikirkannya
Sudah larut malam waktunya aku dan kawan – kawan pulang dan beristirahat dirumah masing – masing.
“Tarra aku laper, pegen makan...!”
“ayo.. kita makan dipinggir jalan aja, ada sate yang enak didekat rumah ku..!”
“boleh... aku jadi ngiler, hehehehe.....!”
Aku berangat bergegas ketempat penjual sate, Tarra meminta satenya dibungkus dan mengajak ku untuk makan dirumahnya. Em... rumahnya  besar sekali, sudah dua bulan aku pacaran dengan Tarra baru sekarang aku main kerumahnya dan disana aku tahu semu kehidupan dia. Ayahnya kerja di Jerman dan dia tinggal dengan Ibunya yang sakit jiwa, aku tahu dibalik kepintaran dan keceriaannya, dia juga merasa kesepian. Aku terharu mendengar cerita Tarra, aku coba untuk memberi semangat. Malam yang melarutkan tak terasa aku tergenggam dengan hati yang sangat bahagia entah batas seperti apa kebahagiaan itu, hanya aku dan Tarra yang tahu.
Hari sudah larut malam, aku diantar Tarra pulang keruma dengan menggunakan motor tanggan ku tak henti melilit dipinggangnya, karena aku merasa nyaman.
“Tarra....?”
“iya apa sayang..?”
“aku berharap aku akan menjadi pelengkap kebahagiaan mu..”
“aku harap kamu jagan terlalu hanyut dalam yuporia perasaan mu Mita”
“maksudnya..? aku ga ngerti”
“ada saatnya aku bersama kamu tapi itu ada akhirnya”
Aku terdiam dan sedikit binggung dengan apa yang dikatakan Tarra. Akhirnya aku sampai dirumah dan melepas tanganku.
“aku masuk dulu yah Tarra..! hati – hati, met malam...?”
“met malam juga..!” sambil tersenyum
Aku bergegas masuk, lalu kekamar. Tak kenapa aku terkagetkan dengan sosok Eva yang menagis sambil duduk ditempat tidurku.
“Eva... Eva kamu, kamu kenapa? Jagan buat aku panik”
“Mita aku harus pergi...”
“pergi kemana? Aku tak mau kehilangan kamu bahkan kehilangan waktu untuk bercerita dengan mu Eva..! cukup dengan hilangnya kamu akhir – akhir ini”
“mawar tetaplah mawar, walau pun putih, merah, hitam, kuncup dan mekar itu tetap mawar aku hanyalah segores teman yang ada dihidupmu, tapi aku bukan waktu yang akan selalu menemanimu”
“apa maksudmu? Bukannya kamu akan selalu menemaniku, akan selalu bercerita dengan ku...?”
Mita aku hanyalah keberuntungan mu, aku ada ketika kamu ada dan aku akan hilang ketika kamu tak ada”
“maksud kamu Eva..?”
“buka buku cerita kita, sekarang..!!”
Aku buka buku yang tertulis semua cerita aku dan Eva. Sontak aku menagis dan panik, tulisan yang dulu berwarna hitam dengan cepatnya berubah menjadi tulisan yang bertintakan merah dan Eva pergi meninggalkan mawar kering ditempat tidurku.
Aku mengejarnya sampai ketaman belakang rumah, Eva duduk dipohon beringin yang dikelilingi pohon bunga mawar merah.
“Eva jangan buat aku panik... ada apa dan kamu kenapa? Aku merasa takut”
Eva hanya terdiam, suasana malam itu begitu ramai dengan suara angin, daun pun berjatuhan. Eva memandang Mita dengan tatapan kosong dan Mita menatap Eva dengan rasa bersalah, takut kehilangan Eva. Angin semakin kencang merontokan bunga mawar  yang masih berdiri diatas tangkainya, pelahan – lahan wujud Eva hilang sedikit demi sedikit hilang dan hilang menjauh sampai tak terlihat lagi. Mita terus menagis buku itu basah oleh air matanya dan akhirnya terjatuh dan tertidur dihamparan kelopak mawar.
Sepagi hari, Mita terbangun dan ternyata aku terbaring ditempat tidur bukan ditempat Eva menghilang.
“apa yang terjadi tadi malam hanyalah mimpi? Eva pasti marah, Eva ada tapi siapa dia?”
Dari hal itu lah aku sadar ketika aku sendiri akan ada seorang teman yang kan menemaniku denagn wujud yang tak nyata tapi ada. Beruntung lah aku, mempunyai teman seperti Eva.

longitudinal :)



Komentar

Postingan Populer